Lahir Kembali di Tengah Ancaman Krisis Pangan, PERTAKIN Ajak Semua Pihak Bergandengan Tangan Seriusi Masa Depan Agraria

    Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) mengajak semua pihak untuk menyeriusi sektor pertanian, untuk menghadapi ancaman krisis pangan yang kian nyata.

    Hal itu ditegaskan Ketua Umum Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) Jainal Jen Maro Pangaribuan, usai menggelar Deklarasi Reaktivasi Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin), di Jalan Salemba Raya 49, Jakarta Pusat, pada Minggu malam, 20 Desember 2020.

    Menurut Peneliti Aren jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, ancaman krisis pangan pasca pandemi Virus Corona menjadi ancaman serius yang kian nyata.

    “Persoalan mendasar dan mendesak yang akan terjadi pasca pandemi Covid-19 adalah ancaman ketersediaan pangan. Booming persoalan baru akan dipicu dari minimnya ketersediaan pangan di masa depan,” tutur Jainal Jen Maro Pangaribuan.

    Oleh karena itu, dalam Pidato Deklarasi Reaktivasi Pertakin, Jainal Jen Maro Pangaribuan menekankan pentingnya kesadaran bersama dari seluruh stakeholders untuk bersama-sama mempersiapkan diri dan melakukan upaya-upaya penanggulangan krisis pangan di masa depan.

    Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemerintahan Jokowi, lanjut Jainal Jen Maro Pangaribuan, untuk mengatasi krisis pangan itu adalah dengan membuat food estate-food estate di daerah-daerah pertanian yang sangat potensial, seperti di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, dan di Kalimantan Tengah.

    Meski begitu, upaya yang maksimal harus dilakukan bersama-sama untuk menghadapi krisis pangan. Hal-hal yang menjadi kondisi memprihatinkan yang dihadapi sektor pertanian saat, dilanjutkan Jen Maro, adalah semakin meluasnya krisis lahan pertanian sebagai sumber pangan. Juga persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat, khususnya petani, yang dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan kesejahteraan dari sektor yang digelutinya.

    Padahal, sarjana-sarjana pertanian, atau insinyur-insinyur di bidang ini sangat banyak. Demikian pula berbagai regulasi dan peralatan sudah semakin canggih. Sehingga, seharusnya tidak akan terlalu kesulitan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi krisis pangan.

    Jainal Jen Maro Pangaribuan menyebut, ke depan, salah satu fokus Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin), akan bersama-sama dengan berbagai organisasi tani di Indonesia, terutama dengan lembaga-lembaga keumatan dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan petani itu sendiri, sebagai salah satu tempat bernaung Pertakin, untuk melakukan berbagai upaya menghadapi krisis pangan di masa depan.

    “Selain itu, Pertakin akan fokus melakukan riset dan percontohan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah-daerah terpencil. Jadi, sebagai organisasi, Pertakin tidak terlepas dari spirit gerakan. Dengan mengumpulkan seluruh lulusan pertanian untuk menjadi penggerak bagi petani, dan menjaga serta mengembangkan basis-basis pertanian Indonesia,” beber pria yang semasa mahasiswa juga berlatar belakang aktivis itu.

    Dia melanjutkan, kegamangan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dalam menghadapi situasi pasca Covid sudah sangat nyata. Yakni ancaman krisis pangan.

    Hal ini mendorong Jainal Jen Maro Pangaribuan dan kawan-kawan di Pertakin agar bergerak cepat. Terkhusus melihat kondisi Indonesia yang berlatar belakang pertanian, harus menjadi pemenang dari bangsa lain soal ketahan pangan. “The life of nation will be done,” tutup Jainal Jen Maro Pangaribuan.


    Lahir Kembali di Tengah Ancaman Krisis Pangan, PERTAKIN Ajak Semua Pihak Bergandengan Tangan Seriusi Masa Depan Agraria. – Foto: Ketua Umum Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) Jainal Jen Maro Pangaribuan bersama para Deklarator ‘Deklarasi Reaktivasi Pertakin’, di Sekretariat GMKI Cabang Jakarta, Jalan Salemba Raya 49, Jakarta Pusat, pada Minggu malam, 20 Desember 2020.(Ist)

    Perlu diketahui, Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) adalah organisasi Petani yang ikut mendirikan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersama dengan 13 organisasi Tani lainnya.

    Dalam sejarahnya, Pertakin didirikan pada 6 Maret 1959, dan terakhir kali melaksanakan Kongres pada 7 April 1964 di Sukabumi, Jawa Barat.

    Moderator yang juga salah seorang Deklarator Reaktivasi Pertakin, Ardian Leonardus Sirait menyampaikan, sejak Kongresnya pada 7 April 1964 di Sukabumi itu, Pertakin seperti hilang dan tidak pernah hadir lagi.

    Oleh karena itu, atas inisiasi bersama dari sejumlah lembaga keumatan Kristen, yang dikenal sebagai Wali Songo-nya orang-orang Kristen, seperti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo)—dulunya partai politik, sekaranga berubah menjadi Ormas, Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI), Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI), Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (LEKRINDO), Kesatuan Pekerja Kristen Indonesia (KESPEKRI), dan Persatuan Tani Kristen Indonesia (PERTAKIN), yang semuanya itu bergandengan tangan dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), selalu mendorong agar lembaga-lembaga itu hidup dan melakukan kerja-kerja pelayanannya di masyarakat.

    “Bahkan, dalam setiap Kongres atau Munas atau Pertemuan-Pertemuan Raya dari setiap anggota Wali Songo Lembaga Keumatan Kristen itu selalu membahas dan mendorong agar lembaga yang mati suri atau yang tidak aktif selama ini, untuk bersama-sama dibantu mengaktifkannya kembali,” tutur Ardian Sirait yang saat ini menjadi fungsionaris di Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) tersebut.

    Lebih lanjut, Ardian Sirait yang merupakan mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Jakarta (GMKI Jakarta) itu menyebutkan, dalam Deklarasi Reaktivasi Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin), dinahkodai oleh 12 orang warga gereja yang merupakan perwakilan-perwakilan dari unsur Wali Songo Lembaga Keumatan Kristen itu.

    “Juga mewakili wilayah dari bagian Indonesia Barat, Tengah dan Indonesia Timur,” ujar Ardian Sirait.

    Keduabelas deklarator Reaktivasi Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) itu adalah, Jainal Jen Maro Pangaribuan, yang merupakan peneliti jebolan IPB dan aktivis lembaga keumatan Kristen seperti GMKI, PIKI dan Parkindo, Jhon Roy P Siregar yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi DKI Jakarta (DPD GAMKI DKI Jakarta), Ardian Leonardus Sirait mewakili aktivis GAMKI, Martin Laurel Siahaan yang merupakan aktivis GMKI, Benardo Sinambela dari PP GMKI demisioner, Regen Hontong yang merupakan aktivis GMKI Jakarta, Antoni Yudha Benusu yang merupakan aktivis GMKI Jakarta, Ivan Cesar Simanjuntak yang merupakan aktivis GMKI Jakarta, Sam Barly Rahakbao yang merupakan aktivis GMKI Jakarta, Jeremy Tarsan Morris yang merupakan aktivis GMKI Cabang Serang, Martin Silitonga aktivis GMKI Jakarta,  Noven Sigalingging yang merupakan mahasiswa STT Jakarta dan aktivis GMKI Jakarta.

    “Kami Warga Gereja, dengan tanggung jawab moral dan iman yang kami miliki melihat kondisi Dunia dan Indonesia saat ini yang diterpa pandemi Covid 19, secara sadar melihat ancaman masa depan adalah masalah pangan. Maka kami menyatakan menghidupkan kembali Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) yang telah didirikan pada tahun 6 Maret 1959,” tutur Ardian.

    Selanjutnya Ardian menyampaikan, mendaulat sebagai deklarator berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), PP GMKI, DPP GAMKI, dan DPP PIKI akhirnya menugaskan Ir Jainal Jen Maro Pangaribuan sebagai Ketua Umum Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) untuk mengorganisir sesuai dengan langkah-langkah organisasi.

    “Dengan ini mendaulat Ir Jainal Jen Maro Pangaribuan sebagai Ketua Umum Persatuan Tani Kristen Indonesia (Pertakin) untuk segera melaksanakan Kongres dan membentuk Pengurus hingga ke daerah-daerah,” ujar Ardian sembari memberikan berkas Deklarasi.(RGR)

    Komentar Facebook