Ada Dugaan Permainan Pasal Dalam Persidangan Kasus Narkotika, Hakim PN Jakpus dan Jaksa Kejari Jakpus Bungkam Saat Dikonfirmasi

    Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) mendadak bungkam ketika dikonfirmasi mengenai temuan dugaan permainan pasal dalam persidangan kasus narkotika. 

    Hal yang sama juga dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus), Wilhelmina, yang menangani kasus narkotika itu. 

    Sejumlah awak media menemukan adanya kejanggalan dalam proses penuntutan dan persidangan kasus narkotika, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). 

    Diduga, Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dan Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, bermain mata dan bekerjasama dalam penanganan kasus narkotika. 

    Hal itu diketahui dari banyaknya perkara narkotika yang saat ini sedang menjalani proses persidangan di PN Jakarta Pusat yang menerapkan pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

    Salah satu perkara narkotika nomor 1038/Pid.Sus/2020/PN Jkt.Pst atas nama terdakwa Nukman Ali Bin Tuhaeni. Perkara ini disidangkan dengan JPU Wilhelmina dan Yuli L, dengan Majelis Hakim Tuty Haryati sebagai Hakim Ketua, Bambang Nurcahyono dan Agung Suhendro sebagai Hakim Anggota. 

    Terdakwa Nukman Ali Bin Tuhaeni dituntut dengan pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan barang bukti daun kering ganja berat bruto kurang lebih 3,56 gram. Yang merupakan Narkotika Golongan I, lampiran sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 

    Majelis Hakim kemudian menyatakan terdakwa terbukti bersalah dengan menjatuhkan hukuman penjara selama 3 tahun 6 bulan. 

    Sementara itu, dalam persidangan, dengan Nomor Perkara 1038/Pid.Sus/2020/PN Jkt.Pst atas nama terdakwa Hendro Utomo, disidangkan dengan JPU Wilhelmina dan Yuli L juga. Sedangkan Majelis Hakim terdiri dari Tuty Haryati sebagai Hakim Ketua, Saifudin Zuhri dan Yusuf Pranowo sebagai Hakim Anggota. 

    Hendro Utomo terbukti bersalah dituntut oleh JPU dengan pasal Pasal 114 ayat 1 Undang-Undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan pidana penjara selama 6 tahun dan 6 bulan. 

    Sementara alat bukti yang digunakan oleh JPU untuk menjerat Hendro Utomo jauh berbeda dengan alat bukti yang digunakan untuk menjerat Nukman Ali Bin Tuhaeni. 

    Alat bukti untuk terdakwa Nukman Ali Bin Tuhaeni merupakan daun kering ganja berat bruto kurang lebih 3,56 gram. Itu merupakan Narkotika Golongan I lampiran sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 

    Sedangkan, alat bukti yang digunakan oleh JPU Wilhelmina untuk Terdakwa Hendro Utomo merupakan narkotika sabu berat bruto 0,27 gram, yang merupakan Narkotika Golongan I lampiran sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 

    Majelis Hakim memvonis Hendro Utomo bersalah, dan dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun dan 6 bulan. 

    Saat dikonfirmasi oleh media ini, Humas PN Jakarta Pusat dan JPU Wilhelmina belum memberikan keterangan terkait perkara tersebut sampai dengan berita ini diterbitkan pada Kamis (28/01/2021).(Nando) 

    Komentar Facebook