Minta Keadilan Bagi Warga Jenggalu, Mahasiswa Unjuk Rasa di Pengadilan Bengkulu 

Mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) bersama dengan Warga Jenggalu menggelar aksi unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Bengkulu, Senin (18/04/2022). 

Para demonstran meminta keadilan bagi Warga Jenggalu dan Pendamping. Mahasiswa meminta Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu membebaskan warga. 

Koordinator Aksi, Floriska Sinurat menyampaikan, aksi unjuk rasa yang digelar agar masyarakat Jenggalu diberi keadilan. 

“Melalui aksi yang kami lakukan hari ini, kami memohon kepada Hakim agar dalam mengambil putusan terkait dengan kasus ini, yakni memutus seadil-adilnya dan menuntut memberhentikan segala bentuk kriminalisasi yang dialami oleh masyarakat Jenggalu,” ujarnya. 

Dalam orasinya juga ia menegaskan, geram dengan tindakan pihak-pihak yang telah mengakibatkan ketakutan di masyarakat. 

“Dampak dari tindakan ini mengakibatkan banyak warga yang memilih diam dan bungkam terhadap kasus yang sedang dialami oleh warga,” katanya. 

Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PP PMKRI) Alboin Samosir, yang berkesempatan hadir dalam aksi solidaritas ini mengatakan, kasus yang dialami oleh warga Jenggalu murni merupakan tindakan penyelewengan terhadap hukum. 

Dia menyebut, berkaca dari latar belakang kasus ini, PT Agri Andalas sampai detik ini tidak mampu menunjukkan legitimasi mengelola lahan tersebut alias tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU). 

“Oleh karena itu, dalil pencurian yang dialamatkan kepada warga tidaklah tepat adanya. Karena apa yang dilakukan oleh warga merupakan puncak dari kekesalan warga terhadap perusahaan dikarenakan tidak terbuka dan merugikan masyarakat sekitar,” ujarnya. 

Alboin menyampaikan, dalam kesempatan aksi solidaritas kali ini, para pengunjuk rasa meminta Hakim agar membebaskan warga. 

“Dengan mempertimbangkan fakta-fakta persidangan yang telah dilakukan, dan memperhatikan rasa keadilan masyarakat Jenggalu. Besar harapan kami, warga dan pendamping yang ditahan dinyatakan tidak bersalah,” ujarnya. 

Ketua Presidium PMKRI Cabang Bengkulu, Josef Wiranto Simanungkalit mengatakan, aksi solidaritas bertujuan agar pihak pengadilan memperhatikan aksi dengan teliti dan mengutamakan obyektivitas dan integritas dalam mengambil keputusan. 

“Kiranya pihak pengadilan terutama hakim yang menangani kasus ini dapat mempertimbangkan untuk membebaskan 5 warga dan 3 orang yang mendampinginya. Sebab kejadian ini merupakan murni kriminalisasi dari para penguasa ataupun mafia tanah,” ujarnya. 

Ketua Pengadilan Negeri Bengkulu, Jon Sarman Saragih yang hadir menemui massa aksi menyampaikan komitmennya bahwa Pengadilan Negeri Bengkulu akan memutus perkara dengan seadil-adilnya. 

“Hakim yang menangani kasus ini tidak akan menjunjung tinggi integritas dan pertanggungjawabannya terhadap Tuhan,” ujarnya. 

Massa aksi mengakhiri unjuk rasa dengan damai dan tertib. Para pengunjuk rasa menyampaikan akan tetap setia mengawal kasus ini sampai dengan selesai. Mereka berjanji akan menggelar aksi dengan massa yang lebih banyak lagi dengan harapan hakim dapat memvonis  warga pendamping.(JRO)

Komentar Facebook