Ziarah ke Makam Bung Karno, Gubernur Lemhannas Ungkap Pidato Pendirian 57 Tahun Silam 

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto mengatakan, lembaga yang dia pimpin didirikan melalui pidato Presiden Soekarno (Bung Karno) pada 20 Mei 1965.

“Lemhannas dari awal pembentukannya melalui pidato Bung Karno pada 20 Mei 1965 saat itu dirancang sebagai sekolah geopolitik,” ujar Andi kepada wartawan usai memimpin segenap pejabat Lemhannas berziarah ke Makam Bung Karno di Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar, Jumat (13/5/2022) sore.

Dalam pidatonya, ujar Andi, Bung Karno menyatakan bahwa suatu negara hanya akan menjadi negara yang kuat jika memahami posisi strategisnya di kawasan regional dan global jika memahami peta kekuatan dan pertarungan politik antar negara-negara besar dan berpengaruh.

Didasarkan pidato itulah, lanjutnya, maka Lemhannas didirikan sehingga hari jadi Lemhannas hingga kini berpatokan pada hari ketika Bung Karno menyampaikan pidato tersebut.

“Dan kami hari ini, dalam rangka 57 tahun Lemhanas berziarah ke Makam Bung Karno untuk meneguhkan tekad kami, komitmen kami meneruskan apa yang dulu menjadi arahan Bung Karno,” ujarnya.

Sejak itulah, kata dia, Lemhannas mengemban tugas memberikan pendidikan kepemimpinan di tingkat nasional, membuat kajian strategis ketahanan nasional dan meneguhkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Sebelumnya, Andi memimpin upacara ziarah dan tabur bunga dalam rangka memperingati hari jadi Lemhannas yang ke 57.

Upacara yang dihadiri sejumlah pejabat Lemhannas dan pejabat tinggi negara itu berlangsung dalam upacara kemiliteran di pelataran dalam area Makam Bung Karno.

Tantangan era digital

Lebih jauh, Andi menguraikan tantangan ketahanan nasional yang saat ini dihadapi Indonesia setelah tanda-tanda pemulihan ekonomi akibat wabah Covid-19 mulai terlihat.

Namun belum usai dampak pandemi, ujarnya, kini Indonesia dihadapkan pada munculnya risiko baru akibat dari perang Rusia dan Ukraina.

Di balik invasi Rusia ke Ukraina, jelas Andi, sebenarnya adalah pertarungan antara Amerika Serikat dan Rusia.

Pertarungan antara kedua negara itu, ujarnya, menambah risiko pertarungan yang terjadi sebelumnya, dan yang masih berlangsung, yaitu antara Amerika Serikat dan Cina.

“Dan itulah yang menjadi inti dari mandat Bung Karno kepada kami di Lemhanas, agar selalu memahami pertarungan-pertarungan politik negara-negara besar yang berpengaruh pada dinamika kekuatan di kawasan kita,” papar Andi.

Namun, Andi tidak menguraikan bagaimana Indonesia seharusnya mengambil posisi dalam pertarungan-pertarungan tersebut.

Mantan Sekretaris Kabinet Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla itu kemudian mengutarakan tantangan ketahanan nasional yang lebih besar di era digital.

Menurut Andi, saat ini sedang terjadi transformasi faktor penentu ketahanan nasional yang sebelumnya adalah kekuatan ekonomi dan militer kini bergeser ke kekuatan digital dan konektivitas.

“Makanya kami di Lemhannas mengambil tema HUT ke-57 ini adalah Transformasi Ketahanan Nasional di Era Geopolitik 5.0,” tuturnya.

Di era digital ini, lanjutnya, penguasaan suatu negara pada teknologi digital, artifisial intelijen dan infrastruktur konektivitas menjadi lebih menentukan kekuatan ketahanan nasional suatu negara dibandingkan dengan kekuatan militer dan ekonomi.

Karenanya, ujar Andi, penting bagi generasi muda Indonesia, generasi milenial dan generasi Z untuk menguasai teknologi digital dan segala hal yang terkait dengannya.*

Komentar Facebook